Sejarah AT&T


Sejarah berdirinya AT&T tak pernah lepas dari sejarah penemuan telepon oleh Alexander Graham Bell pada 1875. Selama abad 19, AT&T merupakan induk perusahaan dari Bell System, perusahaan telepon yang didirikan oleh Graham Bell, yang menyediakan layanan telepon terbaik di dunia. Maka dari itu logo AT&T selalu bersanding dengan brandname American Bell. Logo AT&T sendiri secara visual berupa lingkaran yang melambangkan bola dunia, tersusun dari garis-garis dengan efek optis tiga dimensi yang berkesan high technology. Logo tersebut didesain oleh Saul Bass. Secara keseluruhan logo ini merupakan simbolisasi dunia yang dipenuhi komunikasi elektronik. Kemudian pada tahun 1984, AT&T mengalami divestasi dan restrukturisasi perusahaan yang menjadikan perusahaan itu terbagi menjadi 8 perusahaan dengan masing-masing jenis usaha, dan sejak saat itu AT&T menjadi satu perusahaan sendiri yang khusus menangani layanan telekomunikasi terintegrasi serta produsen peralatan telekomunikasi. Turut mengalami perubahan juga pada logo AT&T, yaitu dengan menghapus brandname American Bell dan menggantikannya dengan nama perusahaan yakni AT&T yang dipergunakan hingga sekarang.

Monopoli AT&T

Pada tahun 1968 Kongres Amerika Serikat meluluskan rancangan undang-undang telekomunikasi, yang salah satu efeknya adalah memangkas hak monopoli atas bisnis telekomunikasi AS oleh AT&T. Ini sekaligus membuka peluang bagi perusahaan telekomunikasi lain untuk menjual berbagai jasa komunikasi dan pernik-perniknya seperti layanan telepon jarak jauh, membuat dan memasarkan pesawat telepon, dan sebagainya. Untuk meraih ambisinya dengan cepat, Bell secara agresif melancarkan kampanye penggalangan opini publik Amerika untuk mendukung dikembalikannya hak monopoli telekomunikasi kepada mereka melalui pembuatan undang-undang telekomunikasi baru menggantikan UU tahun 1968. Slogan yang mereka usung singkat tapi bernas: ”kalau tidak rusak, jangan perbaiki”. Artinya, jika sistem yang selama ini berjalan (monopoli) tidak mempengaruhi kinerja layanan kepada pelanggan, janganlah diutak-atik. Melalui slogan tersebut Bell berusaha memainkan rasa takut masyarakat akan perubahan. Ini tidak beda dengan taktik yang digunakan para pengusaha angkutan kereta kuda di masa silam ketika kehadiran kereta api mengancam bisnis mereka, atau bisnis operator radio panggil (pager) yang mengangkat rumor bahaya radiasi ponsel, ketika menyadari kehadiran ponsel bakal menenggelamkan usaha mereka. Masalahnya sekarang adalah Bell memiliki kekuatan pendanaan dan sumberdaya yang sangat besar untuk mempengaruhi pembuat kebijakan. Tak heran jika dalam waktu singkat mereka mendapat dukungan luas dari kalangan politisi dan organisasi-organisasi kuat lain, termasuk serikat buruh telekomunikasi terbesar di negeri itu, Communications Workers of America. Sebagai strategi mereka, Byoir menetapkan tujuan spesifik yakni mengubah opini publik dan dewan legislatif (Kongres) untuk beralih dari mendukung menjadi menentang Bell Bill. Sasaran kunci yang akan mereka garap adalah tenaga kerja, legislator, dan konsumen pengguna layanan telepon. Langkah berikutnya adalah mengidentifikasi sekutu aktual maupun potensial. Mereka berhasil menemukan dua pihak yang satu hati dan bakal mendukung upaya mereka, yakni Federal Communications Commission (FCC) dan President’s Office of Telecommunication Policy. Keduanya merupakan lembaga idealis yang berusaha mencegah praktek monopoli dalam bentuk apapun. Selain itu, publik yang menaruh curiga dengan kepentingan terselubung Bell untuk menguasai pasar juga terhitung sebagai sekutu potensial buat memerangi ambisi Bell. Byoir juga mendekati media dan organisasi swadaya (LSM) untuk perlindungan konsumen seperti Common Cause. Pukulan pertama mulai dilayangkan pada September 1976 menjelang diselenggarakannya dengar pendapat Kongres tentang Bell Bill. Byoir menyelenggarakan konferensi pers besar di Washington, D.C., mengumumkan penolakan NATA atas Bell Bill disertai alasan-alasan logis penolakan tersebut. Pukulan kedua adalah memulai gerilya penyebaran informasi yang menguraikan bahaya Bell Bill bagi kepentingan negara dan konsumen apabila disahkan menjadi undang-undang. Gerilya tersebut meliputi mempublikasikan artikel dan berita di koran dan majalah-majalah, mengusahakan isu itu diangkat pada siaran radio dan televisi, menyelenggarakan ratusan ceramah dan seminar di seluruh negeri melalui biro juru bicara yang dibentuk khusus, hingga pendekatan tatap muka dengan kalangan wartawan dan redaktur media, dengan mengutus empat staf Byoir untuk melakukan tugas tersebut. Dalam waktu satu tahun sejak kampanye mulai dilancarkan, arus opini publik mulai berbalik arah dari semula mendukung pengesahan Bell Bill menjadi menolak. Para politisi di Kongres yang menyadari hal itu pun mulai berubah sikap. Dari semula 120 anggota Kongres menyatakan mendukung Bell Bill, satu persatu rontok alias membatalkan dukungan mereka. Menyadari hal ini AT&T mulai merasa khawatir, namun masih mencoba bertahan. Mereka bahkan membuat kampanye humas tandingan melalui satu seri iklan televisi yang ditayangkan di jam-jam tayang utama. Pada iklan tersebut Bell mencoba menakut-nakuti konsumen dengan mengatakan bahwa sistem layanan telepon Bell adalah yang terbaik di dunia dan sudah teruji. Apabila pesaing dibiarkan memasuki pasar hal itu hanya akan merusak kualitas layanan yang selama ini dinikmati pelanggan. Salah satu kampanye hubungan masyarakat terbaik sepanjang masa itu memainkan peranan kunci mengakhiri monopoli bisnis selama puluhan tahun yang merusak sendi-sendi ekonomi negara dan mematikan persaingan usaha yang sehat.

HDTV dan HD, sebuah Ilustrasi

Munculnya penyiaran digital menyediakan dua ilustrasi yang sangat baik dari kompleksitas dari organisasi struktur industri media. HDTV yang merupakan sepupu jauhnya radio HD telah mengalami masa sulit menembus pasar karena kebutuhan untuk fungsi organisasi begitu banyak untuk dilayani sebelum konsumen dapat mengadopsi teknologi.

Mari kita mulai dengan yang sederhana: radio HD, teknologi ini memungkinkan ada stasiun radio untuk menyiarkan program mereka saat ini (meskipun dengan setia jauh lebih tinggi), sehingga tidak ada perubahan yang diperlukan dalam area produksi perangkat lunak model. Satu-satunya perubahan yang diperlukan pada jalur lunak adalah radio yang stasiun hanya perlu menambahkan pemancar digital.

Kompleksitas ini terkait dengan perangkat keras konsumen yang diperlukan untuk menerima sinyal radio HD. Satu set perusahaan perlu membuat radio, yang lain harus mendistribusikan radio ke toko-toko eceran dan distribusi lainnya saluran, dan toko-toko dan distributor harus setuju untuk menjualnya. Industri radio Oleh karena itu mengambil peran aktif dalam mendorong difusi radio HD di seluruh jalur hardware. Selain ditayangkan ribuan radio mempromosikan iklan radio HD, industri ini mempromosikan distribusi radio HD di mobil baru (karena begitu mendengarkan radio banyak dilakukan di mobil). Sebagaimana dibahas dalam Bab 10, adopsi radio HD telah dimulai, namun lamban karena pendengar melihat keuntungan pada teknologi baru. Namun, karena jumlah penerima meningkat, penyiar akan memiliki insentif untuk mulai siaran saluran tambahan yang tersedia dengan HD. Seperti dengan FM radio, pemrograman dan penjualan baik penerima harus berada di tempat sebelum adopsi konsumen berlangsung. Juga, seperti dengan FM, teknologi dapat berlangsung puluhan tahun untuk lepas landas.

Analisis unsur sendiri menunjukkan sebuah dimensi menarik-tidak mungkin ada konsumen apapun adopsi teknologi baru sampai semua fungsi produksi dan distribusi dilayani, sepanjang baik hardware dan software jalan. Penelitian ini menambahkan dimensi baru untuk Rogers (2003) teori difusi. titik di mana semua fungsi dilayani telah diidentifikasi sebagai “ambang difusi,” titik di mana difusi teknologi dapat mulai (Grant, 1990).

Hal ini lebih mudah untuk teknologi untuk “lepas landas” dan mulai menyebar jika sebuah perusahaan tunggal menyediakan sejumlah yang berbeda fungsi, mungkin menggabungkan produksi dan distribusi, atau menyediakan kedua distribusi nasional dan lokal.

Istilah teknis untuk memiliki beberapa fungsi dalam suatu industri adalah “integrasi vertikal,” dan vertikal perusahaan terpadu memiliki gelar tidak proporsional kekuasaan dan kontrol di pasar. Integrasi vertikal lebih mudah dikatakan daripada dilakukan, tetapi, karena “kompetensi inti” yang dibutuhkan untuk produksi dan distribusi begitu berbeda. Sebuah perusahaan yang besar pada perusahaan manufaktur mungkin tidak memiliki sumber daya yang diperlukan untuk menjual produk untuk konsumen akhir.

Masa Depan Media dan Industri Komunikasi


Selama beberapa dekade, koran adalah media massa dominan, pendapatan memerintah, perhatian konsumen, dan kekuasaan politik dan ekonomi yang signifikan. Sebagai dekade pertama abad ke-21 akan segera berakhir, namun, penerbit surat kabar mempertimbangkan kembali bisnis inti mereka. Tercatat koran peneliti Philip Meyer (2004) bahkan meramalkan kematian surat kabar, proyeksi (dengan tersenyum) yang terakhir dicetak pembaca koran akan menghilang pada kuartal pertama 2043.

Sebelum memulai jam hitung mundur, perlu untuk mendefinisikan apa yang kita maksud dengan sebuah Jika “penerbit surat kabar.” penerbit surat kabar didefinisikan sebagai sebuah organisasi yang berkomunikasi dan memperoleh pendapatan dengan mengoleskan tinta di pohon mati, maka prediksi umum Meyer lebih mungkin daripada tidak. Namun, jika penerbit koran didefinisikan sebagai sebuah organisasi yang mengumpulkan berita dan pesan iklan, penyebaran mereka melalui berbagai media yang tersedia, maka penerbit surat kabar harus cukup sehat melalui abad.

Tanggapan Penulis

Perkembangan Industri Komunikasi dan struktur industri sangat pesat, dan semua ini berawal dari lahirnya Perusahaan AT&T di Amerika yang pada awalnya memonopoli perusahaan telekomunikasi maupun komunikasi di Amerika saat itu, namun akhirnya monopoli tersebut berakhir, akan tetapi perusahaan ini terus melebarkan sayapnya ke seluruh negara hingga mencapai Indonesia. Seiring berkembangannya industri, perkembangan juga terdapat pada teknologi komunikasi, dimana salah satunya adalah perkembangan Video HD menjadi HDTV yang memaksimalkan kelemahan yang ada pada Video HD. Kedepannya menurut saya, saya tidak setuju dengan pendapat diatas yang mengatakan bahwa beberapa tahun kedepan koran akan ditinggal oleh masyarakat, pernyataan ini jelas tidak bisa kita pegang, karena jika kita melihat perekonomian warga dunia, tidak semuanya pada garis makmur, namun sebagian masih dibawah garis kemiskinan. Maka dari itu saya tidak setuju dengan pernyataan diatas. Sedangkan bagi struktur industri berkembang dengan sangat baik, karena tanpa perkembangan struktur yang baik, maka perkembangan industri tidak akan sangat pesat dan manajemen industri akan berantakan.