APA ITU KONVERGENSI MEDIA?

Konvergensi, mungkin dalam beberapa tahun ini sering kita dengar, terutama Konvergensi media yang acapkali sering dikaitkan dengan media – media yang berkembang sekarang ini, terutama media yang berkaitan dengan perkembangan Teknologi. Kata konvergensi juga sering digunakan untuk merujuk ke berbagai proses yang berbeda, sehingga terkadang menimbulkan kebingungan. Konvergensi media sendiri memiliki pengertian penggabungan atau menyatunya saluran-saluran keluar (outlet) komunikasi massa, seperti media cetak, radio, televisi, Internet dan sebagianya, dengan teknologi – teknologi portabel dan interaktif, melalui berbagai wadah presentasi digital. Dengan kata lain yang lebih sederhana, konvergensi media adalah bergabungnya atau kombinasi antara berbagai jenis media yang sebelumnya hanya dianggap terpisah dan berbeda (misalnya, handphone dan radio), ke dalam sebuah media tunggal. Pergerakan konvergensi media tumbuh dengan pesat ini dikarenakan berkat adanya kemajuan teknologi akhir-akhir ini, khususnya ketika munculnya Internet dan digitalisasi informasi. Konvergensi media ini menyatukan yang namanya ”tiga-C” (computing, communication, dan content). Jika kita jabarkan di level perusahaan – perusahaan, maka konvergensi ini menyatukan perusahaan – perusahaan yang bergerak di bidang informasi (komputer), jejaring telekomunikasi, dan penyedia konten atau perusahaan – perusahaan penerbit informasi (penerbit buku, suratkabar, majalah, stasiun TV, radio, musik, film, dan hiburan).

Selanjutnya, konvergensi media memungkinkan para profesional di bidang media massa untuk menyampaikan berita dan menghadirkan informasi dan hiburan semakin mantap, karena dengan menggunakan berbagai macam media. Komunikasi yang sudah dikonvergensikan akan menyediakan berbagai macam alat untuk penyampaian suatu berita, seperti satu lembaga media massa yang mendapatkan informasi dapat memberitakan melalui radio, televisi dan media cetak dan lain – lain, dan memungkinkan konsumen untuk memilih tingkat interaktivitasnya, seraya mereka bisa mengarahkan sendiri penyampaian kontennya, dalam artian bahwa semakin berkembangnya konvergensi media, maka pangsa pasar media semakin tersegmentasi. Konvergensi media memungkinkan audiens (khalayak) media massa untuk berinteraksi dengan media massa dan bahkan mengisi konten media massa. Audiens sekarang dapat mengontrol kapan, di mana dan bagaimana mereka mengakses dan berhubungan dengan informasi, dalam berbagai jenisnya. Dalam catatan McMillan(2004), dikatakan bahwa teknologi komunikasi baru memungkinkan sebuah media memfasilitasi komunikasi interpersonal yang terwadahkan secara baik. Ketika internet muncul di penghujung abad ke-21, para pengguna internet dan masyarakat luas masih mengidentikkannya sebagai sebuah ”alat” semata. Berbeda sekali dengan sekarang, yang dimana internet menjadi ”media” tunggal yang berdiri sendiri yang bahkan mempunyai kemampuan interaktif yang sangat baik ketimbang media – media lainnya. Sifat interaktif dari penggunaan media konvergen telah melampaui kemampuan dari umpan balik (feedback) itu sendiri, karena secara khalayak, pengakses media konvergen memberikan umpan balik atas pesan-pesan yang disampaikan dan umpan balik yang diberikan adalah secara langsung, yang berarti konvergensi media dapat menebus batas ruang dan waktu. Karakteristik komunikasi massa tanpa konvergensi media di mana umpan baliknya tertunda menjadi lenyap karena kemampuan interaktif media konvergen itu sendiri. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan baru di dalam melihat setiap fenomena komunikasi massa. Ini disebabkan karena sifat interaktif media komunikasi baru, maka pokok-pokok pendekatan linear (SMCRE = source  message  channel  receiver  /feedback) komunikasi massa terasa kurang relevan lagi untuk media konvergen saat ini.

Dalam konteks yang lebih luas, konvergensi media sesungguhnya bukan hanya memperlihatkan kecepatannya dalam perkembangan teknologi, namun konvergensi mengubah hubungan antara teknologi, industri, pasar, gaya hidup dan khalayak besar yang merupakan pengguna media yang terlah ter-konvergensi. Secara singkat, konvergensi media mengubah bentuk – bentuk perilaku hubungan produksi dan konsumsi, yang di mana penggunaannya berdampak serius pada berbagai bidang seperti ekonomi, politik, pendidikan, dan sosial serta kebudayaan. Perubahan ini ditandai dengan meningkatnya penggunaan media konvergen secara luar biasa dalam beberapa tahun belakang ini, terhitung sejak tahun 2007, konvergensi media telah terjadi.

Sepertinya apa yang dikatakan oleh McLuhan (2005) yang menyebutkan bahwa kelak internet akan membawa masyarakat dunia kepada sebuah konsep “global village” itu terbukti pada saat ini, yakni dimana antar manusia di seluruh dunia dapat terkoneksi satu dengan yang lainnya tanpa adanya batasan apapun. Karena semua informasi dan konten yang disajikan oleh internet pada akhirnya memang masih tanpa batas dan bisa diakses siapapun di penjuru bumi ini.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dalam Preston (2001), konvergensi media juga memberikan kesempatan baru dalam penanganan, penyediaan, distribusi dan pemrosesan seluruh bentuk informasi baik yang bersifat visual, audio, data, dan sebagainya yang dulunya memiliki keterbatasan dan permasalahan. Selain itu, Konvergensi media menurut Terry Flew dalam “An Introduction to New Media” mengatakan bahwa konvergensi media merupakan hasil dari irisan tiga unsur new media yaitu jaringan komunikasi, teknologi informasi, dan konten media. Karena memang pada kenyataannya seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa sudah banyak media massa yang mengadopsi konsep ini. Secara bisnis, para juragan media tentunya akan diuntungkan dengan konsep ini untuk meraup pengiklan di medianya.

DAMPAK DARI KONVERGENSI MEDIA ITU SENDIRI

Dampak Konvergensi Media dan Tekhnologi Komunikasi ini menyebabkan terjadinya perubahan – perubahan dalam gaya hidup sehari – hari , yang diantaranya adalah melalui :

1. Munculnya “gaya hidup digital” dengan penggunaan computer dan LAN secara meluas

2. Meluas / tinggi nya pemakaian internet, aplikasi chatting, e – mail, dll.

3. Munculnya gaya hidup mobile

4. Meningkatkan kualitas hidup kita

5. Terbiasa dengan sesuatu yang instan

6. Persaingan industry yang semakin ketat

7. Fenomena serba elektronik dan “on-line”

Berikut ini merupakan tindakan remaja khususnya siswa yang sering ditemukan. Ada sikap positif dan negatif.

1. Banyak siswa yang mempunyai handphone waktu luangnya banyak tersita untuk smsan atau saling telepon, facebook – an, dll (bukan untuk belajar).

2. Ketika proses belajar mengajar sedang berlangsung di dalam kelas sebagian siswa / mahasiswa memilih sibuk dengan handphone mereka.

3. Sebagian siswa yang menggunakan alat komunikasi tersebut untuk saling berkomunikasi ketika saat ulangan.

4. Banyak siswa yang menyimpan hal-hal yang berbau pornoaksi dan pornografi.

5. Siswa tidak menjadi “gagap teknologi”, siswa dapat mengikuti perkembangan era teknologisasi dunia dan siswa dapat lebih produktif, efektif dan efisien dalam waktu, energi dan biaya karena ada sarana komunikasi yang memudahkan urusannya.

6. Siswa dapat mencari materi dengan melakukan searching lewat handphone meskipun berada dalam lingkungan kelas saat jam pelajaran tanpa perlu ke laboratorium TIK.

TANTANGAN KEHADIRAN KONVERGENSI MEDIA

Seiring berkembangnya konvergensi, hal ini menjadikan sebuah tantangan dalam kebijakan penyiaran. perubahan teknologi merupakan fitur utama dari industri media, namun pergeseran dalam teknologi dan munculnya pasar media baru telah menciptakan berbagai ketidakpastian yang baru pula. Kecepatan perubahan teknologi media yang tidak bisa dibatasi dan komunikasi dapat meningkat di masa depan. Misalnya, konsekuensi kebijakan penyiaran yang murah, di mana – mana, jaringan broadband internasional akan jauh menjangkau. Teknologi memiliki konsekuensi perubahan untuk daerah tertentu yang banyak memiliki media peraturan, akses ke spektrum, definisi layanan televisi digital, kepemilikan dan kontrol, dan regulasi konten. Konvergensi jaringan telekomunikasi, jaringan distribusi media, dan internet selama beberapa tahun terakhir ini memunculkan pertanyaan penting tentang mana lokus kontrol harus berbohong berkenaan dengan konvergensi jaringan saat ini, tingkat kontrol bahwa pemerintah dan orang lain harus menggunakan, dan hubungan antara hukum nasional dan internasional. Untuk saat ini, rezim peraturan telah diperlakukan tiga modus komunikasi yang sangat berbeda. Pertama, hukum telah diperlakukan transmisi suara dan data melalui jaringan telepon tradisional yang tunduk pada peraturan nasional substansial dan koordinasi internasional tertentu. Kedua, hukum telah mempertimbangkan konten ditransmisikan melalui jaringan segudang adalah tunduk pada rezim hukum media yang terpisah. Ketiga, komunikasi melalui jaringan berbasis protokol internet telah, dalam sejarah, sering ditinggal sebagian besar tidak diatur, karena berbagai alasan, dalam arti terus terang hukum, tetapi tunduk pada jenis formal kurang dari peraturan oleh perusahaan swasta dan publik. Pertumbuhan pentingnya dan ruang lingkup internet, serta kemampuan tumbuh untuk mengirimkan data stream yang kaya melintasi batas-batas geografis, teka-teki hadir untuk hukum dengan menyebabkan konvergensi teknologi dan menantang negara bangsa yang tua berdasarkan peraturan rezim. Ada beberapa isu yang mempengaruhi pilihan kebijakan yang mengatur jaringan komunikasi tradisional dan teknologi berbasis protokol internet. Kepala di antara isu-isu ini adalah apakah hukum telekomunikasi dan media dan kebijakan yang harus diterapkan untuk teknologi berbasis internet seperti apa adanya; apakah aturan telekomunikasi dan media harus disesuaikan dengan lingkungan baru dan kemudian diterapkan pada teknologi konvergen, atau apakah peraturan rezim terpisah harus ada untuk menutupi dua jenis jaringan yang berbeda. Perubahan teknologi komunikasi membutuhkan tanggapan kebijakan.